10. Mar, 2013

Sejarah Kemeja

Kemeja berasal dari bahasa Portugis, Camisa, adalah sebuah baju atau pakaian atas, terutama untuk pria. Pakaian ini menutupi tangan, bahu, dada sampai ke perut. Pada umumnya berkerah dan berkancing depan, terbuat dari katun, linen, dsb. (ada yang berlengan panjang, juga berlengan pendek).

Nama lain adalah kamisa, yang masih dekat dengan bentuk aslinya, blus, dari bahasa Perancis, terutama untuk wanita dan hem dari bahasa Belanda.

Sampai awal masa Renaissance Eropa, kemeja tergolong garment dalam. Tahun 1530 kemudian diterima dan menjadi modern yang memungkinkan kemeja terlihat di leher dan pergelangan tangan, di mana kerah pakaian dapat ditekuk.

Pada awal 1800-an kerah besar dan kaku semakin ekstrim hingga menimbulkan bahaya karena tajam dan melukai telingan. Bahkan hingga akhir 1902, HG Wells mengeluh bahwa kerah yang terbuat dari kain yang kaku membuat sakit leher dan meninggalkan bekas merah di bawah telinga. Konsep baju berkerah seperti polo shirt, sebenarnya bentuk kerah yang terbalik. 

Sejak zaman dulu, baju kemeja putih dikenal sebagai busana para bangsawan. Dalam buku 'Men’s Wardrobe' seri Chic Simple, disebutkan, para bangsawan Eropa abad ke-17 biasa mengenakan kemeja putih yang dihias renda pada bagian dada dan lengan. Mereka juga biasa tampil dengan kemeja putih pada saat mengenakan busana tuxedo, busana yang berasal dari kalangan bangsawan Inggris. Sampai akhir abad ke-19 kemeja putih dianggap paling elegan. Dulu pria yang memakai kemeja putih dianggap kaya karena memiliki uang untuk sering mengganti kemejanya dengan yang putih bersih. Kemeja putih dianggap sebagai busana pria yang bekerja di tempat bersih. Dari bahan apa pun kemeja putih tampak bersih, elegan dan mewah.

Demikian,

Tim www.pesanbaju.net

Diolah dari berbagai sumber