26. Mei, 2013

Sejarah Kaos

Penggunaan kaos sebagai jenis pakaian dimulai pada awal tahun 1900-an selama Perang Dunia I. Tentara Amerika Serikat menyadari para tentara Eropa telah nyaman memakai kemeja katun. Sehingga Amerika berpikir mereka harus membuat pakaian yang jauh lebih baik daripada seragam wol yang telah mereka pakai selama ini. Sehingga datanglah ide pembuatan kaos dan muncullah kaos sebagai pakaian dalam seragam di medan perang. 

Kaos sebagai seragam tentara

Pendapat lain yang muncul adalah mengatakan bahwa kaos pertama kali dipakai oleh para tentara angkatan laut Amerika Serikat ketika sedang berlayar di lautan. Tidaklah mengherankan bahwa ada banyak pendapat mengenai asal-usul kaos. Namun demikian, kaos yang pada awalnya hanya dipakai sebagai pakaian dalam dan tidak dianggap modis sama sekali saat ini telah mampu menjadi trend fashion di dunia. Telah muncul berbagai macam jenis kaos untuk berbagai macam keperluan. Kaos olahraga, kaos club, kaos komunitas, kaos partai, kaos promosi, kaos brand, dan aneka jenis kaos lainya. 

Sebagian besar orang akan setuju bahwa nama lain kaos adalah T-shirt karena bentuk kaos yang menyerupai huruf 'T'. Namun dalam beberapa kasus terdapat perbedaan pendapat. Beberapa pendapat mengatakan nama lain kaos yaitu 'T-shirt' muncul dari sejarah yang sering dipakai sebagai kaos latihan para tentara yang biasa disebut 'Training Shirt'. 

Pendapat lain yang lebih aneh adalah kata 'T-shirt' berasal dari kata 'tee' dalam kata 'Amputee' yang berarti amputasi yang berkaitan dengan model kaos yang merupakan model dari pakaian lengan panjang yang dipotong.

Kaos naik kelas

Kaos tidak begitu populer sampai kemudian muncul dan berkembangnya budaya pop. Banyak tokoh-tokoh budaya pop yang memakai kaos, seperti James Dean dan Marlon Brando yang mengenakan kaos di film layar lebar. Hal itu membuat kaos saat ini menjadi trend fashion. 

Kaos terbukti diterima kaum muda. Buku The T-Shirt: A Collection of 500 Design yang disusun Luo Lv, Zhang Huiguang menuliskan pada paruh kedua 1960-an, kaos telah menjadi medium penyampai ekspresi, identitas kelompok, dan protes.

Generasi Bunga dengan kaum hippies-nya menggunakan kaos ikat-celup sebagai identitas kaumnya. Model ini menyebar hingga Indonesia sampai ke tingkat kampung-kampung. Muncullah kaos yang dicelup ke dalam cairan pewarna wantek. Sebelumnya, kaos diikat dengan senar seperti teknik jumputan.

Protes kaum muda pada kebijakan perang Vietnam di akhir 1960-an melancarkan protes damai dengan kaos 'Make Love Not War' dan 'Give Peace a Chance'. Salah satu pemakainya adalah John Lennon, penggubah lagu 'Give Peace a Chance'. Simbol perdamaian, peace, rancangan Gerald Holtom yang berbentuk seperti kemudi mobil itu tertera di kaos dan dipakai orang di manapun, termasuk Indonesia. Sejak itu kaos tak pernah lepas dari kultur kaum muda dan mereka yang berhati muda. Kaos menjadi penyampai segala bentuk 'ideologi' dari musik, selera, sampai politik. Dan hal ini bisa disebut evolusi karena sebelumnya kaos adalah undershirts alias pakaian dalam yang lewat proses panjang menjadi pakaian luar dan kemudian naik kelas menjadi bagian dari pop culture.

Demikian,

Tim www.pesanbaju.net

Diolah dari berbagai sumber