9. Mei, 2015

Polo Shirt

Polo shirt atau Kaos Polo yang dikenal juga sebagai kaos kerah kini penggunaannya telah masif dan dipakai oleh berbagai kalangan, mulai dari kalangan menengah ke atas dengan berbagai merek kaos polo yang telah mendunia dengan harga premium maupun kalangan menengah. Kaos kerah pun sering digunakan untuk media promosi oleh berbagai perusahaan dengan berbagai bidang untuk menyampaikan pesan bagi para konsumen mereka.

Tidak seperti perkembangan sekarang, di mana kaos polo telah merambah dunia fashion dan dipakai dalam berbagai kesempatan, termasuk waktu santai, dulu kaos polo atau yang di Indonesia sering disebut kaos wangky digunakan untuk pakaian olahraga. 

Sejarah kaos polo

Kata polo dimulai ketika para pemain olahraga polo sebuah olahraga permainan beregu mirip sepak bola, di mana satu tim beregu menggunakan kuda sebagai ‘kendaraan’ dan membawa palu bergagang panjang yang digunakan untuk memukul bola putih kecil dan mencetak gol ke gawang lawan.

Kala itu para pemain olahraga polo ini menggunakan kemeja yang memiliki bagian lengan panjang serta kancing kerah, serta terbuat dari bahan yang bernama Oxford-cloth. Ciri khas kemeja berkerah ini lah kemudian yang menjadi ciri khas kaos polo, apalagi setelah salah satu pedagang kelontong dan seorang pemain polo asal Argentina memproduksi pakaian jenis kaos kerah ini dengan membordir logo pemain polo di bagian dada di setiap kaos kerah tersebut.

Setelah itu ada Ralph Lauren yang juga memproduksi kaos kerah ini dan juga menambahkan logo pemain polo pada pakaian yang ia produksi, dari situlah istilah kaos polo atau polo shirt kemudian tersebar luas dan menjadi ciri utama kaos berkerah.

Selain dari olahraga polo, kaos kerah ini juga menjadi trend di dunia olahraga tenis, sekitar abad sembilan belas dan awal-awal abad duapuluh, pakaian olahraga tenis tidaklah terlalu nyaman, baju lengan panjang yang digulung, terdapat kancing, lalu celanan flanel serta dasi.

Pakaian yang diberi nama 'tennis whites' memberikan kesulitan gerak tersendiri juga memberikan ketidaknyamanan bagi para olahragawan pemakai pakain ini. Lalu seorang juara Grand Slam (salah satu kejuaran tenis bergengsi di Inggris) memberikan sebuah pencerahan atas pakaian tenis dan membawa fashion sport ke babak selanjutnya. Orang itu bernama Rene Lacoste, juara tujuh kali Grand Slam. Dia merancang sebuah pakaian yang lebih nyaman dan lebih menyenangkan untuk dikenakan dalam olahraga tenis.

Jenis kaos ini diberi nama istilah ‘Petit Pique’, pakaian ini berwarna putih, lengan pendek, kancing, kantung kecil serta kerah yang agak panjang (semacam kerah baju khas 80-an) dan bahan yang nyaman serta tidak kaku, dan sejeni karet di ujung lengan yang membuatnya tidak mudah tergulung, sehingga tidak menyulitkan dalam bergerak. 

Lacoste menggunakan kaos kerah pada tahun 1926 di kejuaran US Open, dan untuk identitas pakaian ini pada tahun 1927 dan seterusnya Lacoste menambahkan logo buaya kecil di bagian dada kiri pakaiannya, karena ia dikenal sebagai ‘the alligator’. Kala itu kaos ini belum diproduksi massal, namun sejak tahun 1933, Lacoste yang telah pensiun dari tenis profesional, bekerjasama dengan rekannya mulai memasarkan pakaian dengan merek Lacoste ke masyarakat luas, tentu dengan identitas khas logo buaya di bagian kiri kaos kerahnya.

Selain nama di atas ada satu lagi nama pemain tenis serta pendiri merek kaos polo yang terkenal, terutama di dunia fashion dan ikut andil dalam membuat kaos kerah menjadi trend di dunia fashon, ia adalah Fred Perry, salah seorang pemain tenis yang disebut sebagai salah satu dari enam pemain tenis terbesar sepanjang sejarah. Selain itu Perry juga seorang pemain tenis meja dan penemu sweatband. 

Dengan kesuksesannya sebagai pemain tenis, Perry pada tahun 1940 didekati oleh seorang pemain football Australia bernama Tibby Wegner, mereka lalu memproduksi kaos kerah dengan ciri yang sama seperti yang telah dijelaskan di atas dan menjadi sebuah pakaian olahraga yang sangat sukses. Kini merek Fred Perry dimiliki oleh perusahaan Jepang dan telah menjadi salah satu ikon fashion untuk polo shirt.

Pada masa sekarang, kaos polo identik dengan pakaian resmi yang santai. Anda bisa memakai kaos polo sebagai pengganti kemeja untuk berkantor, lebih nyaman di pakai tapi tetap sopan dan berkelas. 

Bahan pembuat kaos polo

Biasanya, bahan pembuat kaos polo adalah jenis kain berpori seperti kain kain Katun Pique atau Lacoste PE. Namun kain Katun Combed ataupun Carded juga bisa diproses menjadi polo shirt. Tentu jika desain yang diinginkan adalah dengan sablon, maka lebih baik memakai jenis Katun Combed atau Carded. Jika yang diinginkan adalah bordir, maka akan lebih baik menggunakan kain berpori seperti jenis kain Pique.

Kain Pique adalah jenis kain yang memiliki pori-pori. Kain ini juga sering disebut dengan kain Lacoste Pique. Kain Pique biasanya terbuat dari bahan katun, polyester, atau kombinasi keduanya. Rata-rata jenis kain Pique yang berbahan katun 100%, bisa susut dan prosentase susutnya tidak dapat diprediksi. Kurang lebih susut 2 cm dari ukuran yang sebenarnya. Penyusutan kain hanya terjadi pada pencucian pertama kali. Kain Pique yang terbuat dari katun bisa menyerap keringat, sehingga lebih nyaman saat digunakan.

Kain Pique atau pike biasa digunakan untuk membuat kaos yang memiliki kerah atau biasa disebut polo shirt atau kaos wangki. Untuk membuat kaos kerah tersebut biasanya digunakan kerah jadi. Kerah jadi adalah bahan kerah yang sudah jadi diproduksi oleh pabrik dan tinggal dijahit. Dan ada pula kerah buatan yang dibuat sendiri oleh tukang jahit dengan menggunakan bahan yang sama dengan bahan kaos dengan menambahkan kain keras di dalamnya.

Demikian,

Tim www.pesanbaju.net

Diolah dari berbagai sumber