Blog www.pesanbaju.net

16. Jan, 2013

Kaos adalah pakaian sehari-hari yang sering kita pakai dalam suasana santai. Pakaian ini bisa dikenakan siapa saja baik laki-laki maupun perempuan, untuk semua kelompok umur termasuk bayi, remaja dan dewasa. Dengan desain yang terus berkembang seiring dengan perkembangan trend dari tahun ke tahun, kini kaos (T-shirt) menjadi pakaian yang memiliki nilai melebihi fungsi dasarnya. Kaos kini telah menjadi bagian dari dunia fashion.

 

Berikut ini adalah cara merawat kaos kesayangan Anda:

  • Jangan merendam kaos terlalu lama
    Untuk kaos yang baru pertama kali dicuci, jangan merendam lebih dari 30 menit, dan untuk kaos lama tidak lebih dari 1 jam. Jangan pula merendam dalam air dengan deterjen berlebih. Karena deterjen berlebih mudah berakibat sablon pada kaos cepat rusak atau terkelupas.
  • Pilah saat mencuci
    Pisahkan kaos Anda dengan pakaian lain, terutama kaos yang berwarna gelap seperti hitam, merah, biru, dsb dengan kaos berwarna terang seperti warna putih. Ini untuk mencegah seandainya warna tersebut luntur, tidak mengakibatkan kaos putih Anda terkena dampaknya. Pisahkan juga antara pakaian yang kotor dengan yang kurang kotor agar kotoran tidak berpindah.
  • Jangan menyikat berlebihan saat mencuci
    Terutama kaos berbahan katun, jangan menyikat dengan berlebihan pada kaos jenis ini karena dapat merusak tekstur kain. Hindari juga kucekan dan perasan yang terlalu kuat karena dapat merusak sablon juga dapat merusak pori-pori kaos.
  • Hindari memakai pemutih
    Hindari mencuci kaos bersablon dengan pemutih atau deterjen yang mengandung pemutih karena reaksi kimia pemutih dapat mengakibatkan sablon menjadi luntur dan cat sablon terkelupas. Pemutih juga membuat kaos lebih cepat tipis dan menjadi kasar.
  • Hindari mencuci dengan mesin cuci
    Sebaiknya cuci kaos Anda secara manual dengan tangan. Putaran mesin cuci dan gesekan antar baju satu sama lain bisa berakibat kaos menjadi melar, sablon cepat rusak dan pori-pori kain menjadi kasar.
  • Segera cuci jika terkena noda
    Segera cuci pada bagian yang kotor jika kaos Anda terkena noda. Oleskan shampoo atau deterjen pada bagian yang terkena noda, lalu gosok dengan halus dan bilas dengan air bersih hingga noda menghilang.
  • Jemur terbalik
    Sinar matahari berlebih dapat mengakibatkan warna kaos dan sablon kaos Anda lekas memudar. Oleh karena itu jemurlah kaos Anda dengan posisi terbalik. Bagian dalam menghadap keluar, dan bagian luar atau yang bersablon menghadap ke dalam agar tidak terkena sinar matahari langsung.
  • Jangan menggantung
    Jangan menggantung dengan gantungan baju saat menjemur kaos karena dapat mengakibatkan bagian leher dan pundak kaos menjadi melar. Beban kaos saat basah dapat membuat kaos Anda melar membentuk gantungan baju di bagian leher dan pundaknya. Gunakan gantungan baju hanya untuk kaos yang kering.
  • Setrika
    Setrikalah kaos Anda setelah dicuci dan dijemur.
    Atur posisi panas setrika Anda pada posisi sedang. Pastikan menyetrika baju dalam keadaan kering dan hindari menyetrika pada bagian sablon secara langsung, atau jika mau disetrika, gosoklah di bagian sebaliknya agar jangan terkena sablonnya.
  • Jangan dipakai saat tidur
    Kaos yang dipakai saat tidur akan menjadi cepat kotor, kusut, dan melar. Keringat Anda, kotoran debu, tindihan tubuh Anda, dan gerakan-gerakan tubuh Anda yang tidak Anda sadari bisa membuat kaos Anda menjadi tampak tidak rapi lagi.
  • Pakai seperlunya
    Untuk kaos kersayangan Anda, sebaiknya gunakan saat acara-acara atau kegiatan tertentu saja. Jangan terlalu sering memakainya, karena terlalu sering dipakai kaos Anda tentu akan cepat menjadi rusak dan pudar warnanya.
  • Simpan dengan rapi
    Terakhir, simpanlah kaos Anda dengan lipatan yang rapi. Atau jika ingin digantung, gantunglah dengan rapi. Simpan pada tempat yang kering dan tidak lembab. Bila perlu, gunakanlah pewangi pakaian untuk lemari baju Anda.

 

Demikian,

Tim www.pesanbaju.net

Diolah dari berbagai sumber

14. Agt, 2012

Jenis Katun

Istilah Combed dan Carded digunakan untuk membedakan benang yang digunakan pada rajutan kain. Ini dia bedanya Bahan Kaos Katun Combed dan Katun Carded.

Carded:
Kain ini dirajut dari benang-benang yang berbulu dan tidak disisir saat proses perajutan sehingga masih banyak mengandung serat-serat kapas yang pendek-pendek. Pada Benang jenis ini mesin yang digunakan tidak ada mesin combingnya. Nama Carded di sini berasal dari nama mesin pemintalannya yaitu mesin Carding.

Combed:
Adalah kain yang disusun dari benang kapas dimana pada saat pemintalannya / spinning menggunakan mesin tambahan yang disebut dengan mesin combing yang gunanya untuk membuang serat-serat pendek dari kapas yang tidak optimal pada mesin sebelumnya (Mesin Carding). Karena kerapihan dan kehalusan serat, serta kelembutan dan kenyamanannya, kain Katun Combed pada umumnya diperuntukkan untuk kaos-kaos kualitas distro dari merek-merek clothing terkenal.

 

Di balik angka kain Katun

Anda pasti sering bertemu dengan istilah Cotton Combed 20s, 24s, 30s, atau 40s. Umumnya, semakin kecil angka semakin tebal bahan kaos yang dimaksud. Katun Combed 20s lebih tebal dibanding jenis 24s, 24s lebih tebal daripada 30s, dan seterusnya. Akan tetapi, tidak ada standar yang pasti di antara para produsen bahan katun, sehingga istilah 20s dari produsen kaos 1 bisa berbeda ketebalannya dengan bahan 20s dari produsen lainnya.

 

Angka 20, 24, 30, dan 40 mengacu pada tipe benang yang digunakan pada proses perajutan menjadi kain. Benang 20 pada umumnya digunakan untuk menghasilkan bahan kain dengan gramasi antara 180 – 220 gr/m2 untuk jenis rajutan jarum tunggal (single knit). Benang 24 digunakan untuk menghasilkan bahan kain dengan gramasi antara 170 – 210 gr/m2 untuk jenis rajutan jarum tunggal (single knit). Benang 30 dipakai untuk menghasilkan bahan kain dengan gramasi antara 140 – 160 gr/m2 untuk jenis rajutan jarum tunggal. Untuk jenis rajutan jarum ganda, bahan kain yang dihasilkan mencapai gramasi antara 210 – 230 gr/m2. Benang 40 digunakan untuk menghasilkan bahan kain dengan gramasi antara 110 – 120 gr/m2 untuk jenis rajutan jarum tunggal (single knit). Untuk jenis rajutan jarum ganda, bahan kain yang dihasilkan mencapai gramasi antara 180 – 200 gr/m2.

 

Demikian,

Tim www.pesanbaju.net

Diolah dari berbagai sumber

27. Jul, 2012

Kemeja berasal dari bahasa Portugis, Camisa, adalah sebuah baju atau pakaian atas, terutama untuk pria. Pakaian ini menutupi tangan, bahu, dada sampai ke perut. Pada umumnya berkerah dan berkancing depan, terbuat dari katun, linen, dsb. (ada yang berlengan panjang, juga berlengan pendek).

 

Nama lain adalah kamisa, yang masih dekat dengan bentuk aslinya, blus, dari bahasa Perancis, terutama untuk wanita dan hem dari bahasa Belanda.

 

Sampai awal masa Renaissance Eropa, kemeja tergolong garment dalam. Tahun 1530 kemudian diterima dan menjadi modern yang memungkinkan kemeja terlihat di leher dan pergelangan tangan, di mana kerah pakaian dapat ditekuk.

 

Pada awal 1800-an kerah besar dan kaku semakin ekstrim hingga menimbulkan bahaya karena tajam dan melukai telingan. Bahkan hingga akhir 1902, HG Wells mengeluh bahwa kerah yang terbuat dari kain yang kaku membuat sakit leher dan meninggalkan bekas merah di bawah telinga. Konsep baju berkerah seperti polo shirt, sebenarnya bentuk kerah yang terbalik.

 

Sejak zaman dulu, baju kemeja putih dikenal sebagai busana para bangsawan. Dalam buku 'Men’s Wardrobe' seri Chic Simple, disebutkan, para bangsawan Eropa abad ke-17 biasa mengenakan kemeja putih yang dihias renda pada bagian dada dan lengan. Mereka juga biasa tampil dengan kemeja putih pada saat mengenakan busana tuxedo, busana yang berasal dari kalangan bangsawan Inggris. Sampai akhir abad ke-19 kemeja putih dianggap paling elegan. Dulu pria yang memakai kemeja putih dianggap kaya karena memiliki uang untuk sering mengganti kemejanya dengan yang putih bersih. Kemeja putih dianggap sebagai busana pria yang bekerja di tempat bersih. Dari bahan apa pun kemeja putih tampak bersih, elegan dan mewah.

 

Demikian,

Tim www.pesanbaju.net

Diolah dari berbagai sumber

11. Jun, 2012

Polo shirt atau Kaos Polo yang dikenal juga sebagai kaos kerah kini penggunaannya telah masif dan dipakai oleh berbagai kalangan, mulai dari kalangan menengah ke atas dengan berbagai merek kaos polo yang telah mendunia dengan harga premium maupun kalangan menengah. Kaos kerah pun sering digunakan untuk media promosi oleh berbagai perusahaan dengan berbagai bidang untuk menyampaikan pesan bagi para konsumen mereka.

 

Tidak seperti perkembangan sekarang, di mana kaos polo telah merambah dunia fashion dan dipakai dalam berbagai kesempatan, termasuk waktu santai, dulu kaos polo atau yang di Indonesia sering disebut kaos wangky digunakan untuk pakaian olahraga.

 

Sejarah kaos polo

Kata polo dimulai ketika para pemain olahraga polo sebuah olahraga permainan beregu mirip sepak bola, di mana satu tim beregu menggunakan kuda sebagai ‘kendaraan’ dan membawa palu bergagang panjang yang digunakan untuk memukul bola putih kecil dan mencetak gol ke gawang lawan.

 

Kala itu para pemain olahraga polo ini menggunakan kemeja yang memiliki bagian lengan panjang serta kancing kerah, serta terbuat dari bahan yang bernama Oxford-cloth. Ciri khas kemeja berkerah ini lah kemudian yang menjadi ciri khas kaos polo, apalagi setelah salah satu pedagang kelontong dan seorang pemain polo asal Argentina memproduksi pakaian jenis kaos kerah ini dengan membordir logo pemain polo di bagian dada di setiap kaos kerah tersebut.

 

Setelah itu ada Ralph Lauren yang juga memproduksi kaos kerah ini dan juga menambahkan logo pemain polo pada pakaian yang ia produksi, dari situlah istilah kaos polo atau polo shirt kemudian tersebar luas dan menjadi ciri utama kaos berkerah.

 

Selain dari olahraga polo, kaos kerah ini juga menjadi trend di dunia olahraga tenis, sekitar abad sembilan belas dan awal-awal abad duapuluh, pakaian olahraga tenis tidaklah terlalu nyaman, baju lengan panjang yang digulung, terdapat kancing, lalu celanan flanel serta dasi.

 

Pakaian yang diberi nama 'tennis whites' memberikan kesulitan gerak tersendiri juga memberikan ketidaknyamanan bagi para olahragawan pemakai pakain ini. Lalu seorang juara Grand Slam (salah satu kejuaran tenis bergengsi di Inggris) memberikan sebuah pencerahan atas pakaian tenis dan membawa fashion sport ke babak selanjutnya. Orang itu bernama Rene Lacoste, juara tujuh kali Grand Slam. Dia merancang sebuah pakaian yang lebih nyaman dan lebih menyenangkan untuk dikenakan dalam olahraga tenis.

 

Jenis kaos ini diberi nama istilah ‘Petit Pique’, pakaian ini berwarna putih, lengan pendek, kancing, kantung kecil serta kerah yang agak panjang (semacam kerah baju khas 80-an) dan bahan yang nyaman serta tidak kaku, dan sejeni karet di ujung lengan yang membuatnya tidak mudah tergulung, sehingga tidak menyulitkan dalam bergerak.

 

Lacoste menggunakan kaos kerah pada tahun 1926 di kejuaran US Open, dan untuk identitas pakaian ini pada tahun 1927 dan seterusnya Lacoste menambahkan logo buaya kecil di bagian dada kiri pakaiannya, karena ia dikenal sebagai ‘the alligator’. Kala itu kaos ini belum diproduksi massal, namun sejak tahun 1933, Lacoste yang telah pensiun dari tenis profesional, bekerjasama dengan rekannya mulai memasarkan pakaian dengan merek Lacoste ke masyarakat luas, tentu dengan identitas khas logo buaya di bagian kiri kaos kerahnya.

 

Selain nama di atas ada satu lagi nama pemain tenis serta pendiri merek kaos polo yang terkenal, terutama di dunia fashion dan ikut andil dalam membuat kaos kerah menjadi trend di dunia fashon, ia adalah Fred Perry, salah seorang pemain tenis yang disebut sebagai salah satu dari enam pemain tenis terbesar sepanjang sejarah. Selain itu Perry juga seorang pemain tenis meja dan penemu sweatband.

 

Dengan kesuksesannya sebagai pemain tenis, Perry pada tahun 1940 didekati oleh seorang pemain football Australia bernama Tibby Wegner, mereka lalu memproduksi kaos kerah dengan ciri yang sama seperti yang telah dijelaskan di atas dan menjadi sebuah pakaian olahraga yang sangat sukses. Kini merek Fred Perry dimiliki oleh perusahaan Jepang dan telah menjadi salah satu ikon fashion untuk polo shirt.

 

Pada masa sekarang, kaos polo identik dengan pakaian resmi yang santai. Anda bisa memakai kaos polo sebagai pengganti kemeja untuk berkantor, lebih nyaman di pakai tapi tetap sopan dan berkelas.

 

Bahan pembuat kaos polo

Biasanya, bahan pembuat kaos polo adalah jenis kain berpori seperti kain kain Katun Pique atau Lacoste PE. Namun kain Katun Combed ataupun Carded juga bisa diproses menjadi polo shirt. Tentu jika desain yang diinginkan adalah dengan sablon, maka lebih baik memakai jenis Katun Combed atau Carded. Jika yang diinginkan adalah bordir, maka akan lebih baik menggunakan kain berpori seperti jenis kain Pique.

 

Kain Pique adalah jenis kain yang memiliki pori-pori. Kain ini juga sering disebut dengan kain Lacoste Pique. Kain Pique biasanya terbuat dari bahan katun, polyester, atau kombinasi keduanya. Rata-rata jenis kain Pique yang berbahan katun 100%, bisa susut dan prosentase susutnya tidak dapat diprediksi. Kurang lebih susut 2 cm dari ukuran yang sebenarnya. Penyusutan kain hanya terjadi pada pencucian pertama kali. Kain Pique yang terbuat dari katun bisa menyerap keringat, sehingga lebih nyaman saat digunakan.

 

Kain Pique atau pike biasa digunakan untuk membuat kaos yang memiliki kerah atau biasa disebut polo shirt atau kaos wangki. Untuk membuat kaos kerah tersebut biasanya digunakan kerah jadi. Kerah jadi adalah bahan kerah yang sudah jadi diproduksi oleh pabrik dan tinggal dijahit. Dan ada pula kerah buatan yang dibuat sendiri oleh tukang jahit dengan menggunakan bahan yang sama dengan bahan kaos dengan menambahkan kain keras di dalamnya.

 

Demikian,

Tim www.pesanbaju.net

Diolah dari berbagai sumber

26. Mei, 2012

Penggunaan kaos sebagai jenis pakaian dimulai pada awal tahun 1900-an selama Perang Dunia I. Tentara Amerika Serikat menyadari para tentara Eropa telah nyaman memakai kemeja katun. Sehingga Amerika berpikir mereka harus membuat pakaian yang jauh lebih baik daripada seragam wol yang telah mereka pakai selama ini. Sehingga datanglah ide pembuatan kaos dan muncullah kaos sebagai pakaian dalam seragam di medan perang.

 

Kaos sebagai seragam tentara

Pendapat lain yang muncul adalah mengatakan bahwa kaos pertama kali dipakai oleh para tentara angkatan laut Amerika Serikat ketika sedang berlayar di lautan. Tidaklah mengherankan bahwa ada banyak pendapat mengenai asal-usul kaos. Namun demikian, kaos yang pada awalnya hanya dipakai sebagai pakaian dalam dan tidak dianggap modis sama sekali saat ini telah mampu menjadi trend fashion di dunia. Telah muncul berbagai macam jenis kaos untuk berbagai macam keperluan. Kaos olahraga, kaos club, kaos komunitas, kaos partai, kaos promosi, kaos brand, dan aneka jenis kaos lainya.

 

Sebagian besar orang akan setuju bahwa nama lain kaos adalah T-shirt karena bentuk kaos yang menyerupai huruf 'T'. Namun dalam beberapa kasus terdapat perbedaan pendapat. Beberapa pendapat mengatakan nama lain kaos yaitu 'T-shirt' muncul dari sejarah yang sering dipakai sebagai kaos latihan para tentara yang biasa disebut 'Training Shirt'.

 

Pendapat lain yang lebih aneh adalah kata 'T-shirt' berasal dari kata 'tee' dalam kata 'Amputee' yang berarti amputasi yang berkaitan dengan model kaos yang merupakan model dari pakaian lengan panjang yang dipotong.

 

Kaos naik kelas

Kaos tidak begitu populer sampai kemudian muncul dan berkembangnya budaya pop. Banyak tokoh-tokoh budaya pop yang memakai kaos, seperti James Dean dan Marlon Brando yang mengenakan kaos di film layar lebar. Hal itu membuat kaos saat ini menjadi trend fashion.

 

Kaos terbukti diterima kaum muda. Buku The T-Shirt: A Collection of 500 Design yang disusun Luo Lv, Zhang Huiguang menuliskan pada paruh kedua 1960-an, kaos telah menjadi medium penyampai ekspresi, identitas kelompok, dan protes.

 

Generasi Bunga dengan kaum hippies-nya menggunakan kaos ikat-celup sebagai identitas kaumnya. Model ini menyebar hingga Indonesia sampai ke tingkat kampung-kampung. Muncullah kaos yang dicelup ke dalam cairan pewarna wantek. Sebelumnya, kaos diikat dengan senar seperti teknik jumputan.

 

Protes kaum muda pada kebijakan perang Vietnam di akhir 1960-an melancarkan protes damai dengan kaos 'Make Love Not War' dan 'Give Peace a Chance'. Salah satu pemakainya adalah John Lennon, penggubah lagu 'Give Peace a Chance'. Simbol perdamaian, peace, rancangan Gerald Holtom yang berbentuk seperti kemudi mobil itu tertera di kaos dan dipakai orang di manapun, termasuk Indonesia. Sejak itu kaos tak pernah lepas dari kultur kaum muda dan mereka yang berhati muda. Kaos menjadi penyampai segala bentuk 'ideologi' dari musik, selera, sampai politik. Dan hal ini bisa disebut evolusi karena sebelumnya kaos adalah undershirts alias pakaian dalam yang lewat proses panjang menjadi pakaian luar dan kemudian naik kelas menjadi bagian dari pop culture.

 

Demikian,

Tim www.pesanbaju.net

Diolah dari berbagai sumber